hujan salju jatuhan + birdtwet



kode kunci blog

tulisan bergerak

welcome to my blog.. thank you for visiting my blog, I hope to give you all the inspiration, before dropping out of this blog do not forget to follow my blog I am going to follow behind, thank you :) Cartoons Myspace Comments
Blogs are "alive" for me. . . and this is my style. . . I want to do something, it's all what I like, do not you protest! hohohohoo :-)) "People may laugh at what we make today, maybe they think its not important, but we do not know one day it will all be something very unusual thing in the future later..." with through this blog spirit, knowledge, ideas, and we can fight for it here. . . Do not ever be afraid to try something new, do it if you think it is a good thing for you, okey :-)) . . .And Do what you can do. . . Do not ever give up and never fear to fail. . . because of the failure will not make dreams we want to be an end of our lives and Learn from a failure because a failure is a path where we will be successful someday! continued enthusiasm and desire Reach as high as the stars in the sky :-))

WELCOME love



hi + kursor nama


wow


cursor gelembung

Minggu, 30 Oktober 2011

Pemeriksaan Faeces

Praktikum Kimia Klinik


Pemeriksaan Feaces
  • Makroskopis
Metode : Visual
Tujuan : Mengetahui keadaan faeces secara makroskopik meliputi konsistensi, warna, bau, sisa makanan, nanah (pus), darah, lendir dan parasit.


Alat dan bahan : Botol Penampung faeces


Spesimen : Faeces


Cara Kerja :
  • Faeces yang didapat diamati keadaannya.
  • Penilaian secara makroskopik mengenai konsistensi, warna, bau, sisa makanan, nanah/pus, darah, lendir dan adanya parasit di tempat yang terang cukup cahaya.
  • Lakukan penilaian hasil pemeriksaan tersebut.


Nilai Normal :
  1. Konsistensi => Padat, encer, lembek (Normal : Padat, berbentuk)
  2. Warna => Merah, kuning, hijau, kuning kecoklatan, hitam, putih seperti lem (Normal : Kuning kecoklatan)
  3. Bau => Busuk, skatol, indol (Normal : Indol, Skatol)
  4. Sisa Makanan => Berminyak lemak, serat, kasar berbiji dan tidak tercerna (Normal : Ada serat)
  5. Lendir => Lendir banyak, lendir sedikit, lendir bercampur rata dengan darah, lendir putih, lendir merah. (Normal : Jumlah sedikit)
  6. Darah => Ada, ada bercampur merata, ada terpisah (Normal : Tidak ada)
  7. Pus / Nanah => Ada, banyak pus (Normal : Tidak ada)
  8. Parasit => Cacing dewasa, larva cacing, skolek, proglottid (Normal : Tidak ada)

  • Mikroskipis
Metode :
  • Tanpa Pewarnaan (preparat basah dan kering)
  • Pewarnaan Latar belakang
  • Konsentrasi (khusus Telur cacing)


Tujuan : Untuk mengetahui keadaan faeces secara mikroskopik.


Alat dan Bahan :
Objek gelas
Cover gelas
Mikroskop
Pipet tetes
Lidi
Tabung
Pinset


Reagensia :
Parafin liquidum
Aquadest
Lugol 1%
Asam Asetat 30%
Sudan III
NaCl jenuh (konsentrasi)
Eosin 2%


Spesimen : Faeces


Cara Kerja :


  • Tanpa Pewarnaan
- Dibuat preparat basah menggunakan faeces dengan cara membuat suspensi faeces dalam wadah/tabung dengan beberapa tetes aquadest (3-4 tetes)


- Dibuat 2 buah preparat, preparat pertama langsung diteteskan pada objek gelas dan ditutup cover gelas. Preparat kedua ditambah 1 tetes asam asetat 30% (untuk melihat sisa pencernaan protein), ditutup cover gelas dan diperiksa dimikroskop lensa objektif 10x dan 40x.




  • Preparat Langsung (Sisa lemak)
- Diambil faeces dan ditambah 5 tetes parafin cair, diaduk hingga merata dan tipis, dan ditutup cover gelas.
- Diperiksa mikroskop lensa objektif 10x dan 40x.


  • Dengan Pewarnaan
a) Sisa Pencernaan Karbohidrat
  • 1 Tetes lugol 1% ditambah 1 bagian faeces
  • Dicampur dan dipanaskan diatas nyala api kecil spritus selama 30 detik dan dinginkan, ditutup dengan cover gelas.
  • Diperiksa mikroskop lensa objektif 10x dan 40x.


b) Sisa Pencernaan Lemak
  • 1 Tetes Sudan III ditambah 1 tetes asam asetat dan 1 bagian faeces
  • Dicampur dan dipanaskan diatas nyala api kecil spritus selama 30 detik dan dinginkan, ditutup dengan cover gelas.
  • Diperiksa mikroskop lensa objektif 10x dan 40x.


c) Adanya Eritrosit, Leukosit dan Amoeba
  • 1 tetes Eosin 2% ditambah 1 bagian faeces dan dicampur.
  • Ditutup dengan cover gelas dan diperiksa mikroskop lensa objektif 10x dan 40x.


4. Konsentrasi
  • 5 gram faeces dicampur dengan NaCl jenuh 3-5 mL dalam beaker gelas
  • Diaduk sampai merata hingga terbentuk suspensi.
  • Diapungkan cover gelas dipermukaan suspensi selama 30 -60 menit.
  • Diambil cover gelas dengan pinset dan diletakkan di atas objek gelas.
  • Diperiksa mikroskop lensa objektif 10x dan 40x.


  • KIMIAWI
Darah Samar
Metode : Benzidine
Tujuan : Untuk mengetahui adanya darah samar dalam faeces.

Prinsip : Darah mengandung enzim peroksidase yang akan menguraikan hidrogen peroksida dalam suasana asam sehingga akan mengoksidasi benzidine menjadi senyawa yang berwarna hijau biru.

Alat dan Bahan :
Tabung reaksi
Lampu spritus
Pipet tetes
Batang pengaduk

Reagensia :
Larutan Benzidine jenuh
Asam asetat glasial
Larutan Hidrogen peroksida 3%

Spesimen : faeces

Cara Kerja :
  • tabung reaksi I : masukkan sepucuk sendok benzidine.
  • Tambahkan 3 tetes asam asetat glasial dan kocok.
  • Ditambah 20 tetes H2O2 3% dan dicampur hingga homogen.
  • Tabung reaksi II : Faeces disuspensikan menggunakan air atau aquadest dan dipanaskan nyala api kecil. Dinginkan.
  • Dicampur tabung I ke tabung II dan diamkan selama 5 menit.
  • Dibaca hasilnya.
Penilaian sama dengan darah samar dalam feaces :
  • Hasil negatif (-) bila larutan tetap coklat
  • Hasil positif (+) bila larutan coklat kemerahan

Sterkobilin
Metode : Schmidt
Tujuan : Untuk mengetahui adanya sterkobilin dalam faeces.

Prinsip : Urobilin/sterkobilin bereaksi dengan sublimat membentuk zat warna merah.

Alat dan Bahan :
Tabung reaksi
Lampu spritus
Pipet tetes

Reagensia :
Larutan jenuh Sublimat (HgCl2)

Spesimen : Faeces

Cara Kerja :
  • 3 gram faeces atau sepucuk sendok dicampur dengan 4-5 mL larutan sublimat jenuh.
  • Diaduk agar tercampur.
  • Dipanaskan sampai mendidih dan dinginkan.
  • Dibaca hasilnya.
Penilaian Hasil :
Adanya sterkobilin terbentuk warna merah.

Sel Erytrosit dalam Faeces


Sel Tumbuhan






Sumber :
foto diambil dengan menggunakan kamera hp wktu praktek Kimia Klinik kamis kemaren :)

Sedimen Urine (Stainning)

Praktikum Kimia Klinik


Sedimen Urine (Stainning)

Metode : Sternheimer Malbin Stains
Tujuan : Untuk mengetahui komponen dan jenis sedimen dalam urine.

Prinsip : Berat jenis unsur-unsur organik dan anorganik lebih besar dari berat jenis cairan urine, sehingga bila disentrifuge unsur-unsur tersebut akan mengendap, kemudian diwarnai menggunakan zat warna dan diperiksa di bawah mikroskop, dihitung per lapang pandang kecil dan besar.

Alat dan Reagensia :
- Tabung sentrifuge
- Pipet tetes
- Objek gelas
- Cover gelas
- Mikroskop
- Sentrifuge
- Zat Warna Sternheimer Malbin :

Sampel : Urine

Cara Kerja :
  • Dikocoklah urine dalam botol supaya bila sedimen yang mengendap akan tercampur rata.
  • Dituang urine ke dalam tabung sebanyak 12 mL dan di sentrifuge sampel tersebut selama 5 menit pada 1500 rpm.
  • Dituang/dibuang urine hingga tersisa 1 mL (sediment urine) atau hingga cairan tersisa sedikit.
  • Ditambahkan 1 tetes Zat Warna Sternheimer Malbin, kocok hingga homogen.
  • Diambil sedikit sampel sediment urine yang telah dicampur dengan Sternheimer Malbin dengan pipet tetes, buat sediaan di Objek glass.
  • Tutup atas sediaan dengan deck glass.
  • Amati sampel slide dengan mikroskop pada pembesaran 10 x dan 40 x.
  • Lakukan penghitungan komponen sedimen yang ditemukan menurut aturan yang telah ditetapkan.

Penilaian :
- Eritrosit dan leukosit dihitung selnya per LPB
- Unsur sedimen lainnya dinilai dengan derajat positif :
  Positif satu (+) : Bila jumlahnya sedikit
  Positif dua (++) : Bila jumlahnya banyak
  Positif tiga (+++) : Bila jumlahnya banyak sedikit

Nilai Normal :
  • Eritrosit : 0-1/LPB
  • Leukosit : 0-3/LPB
  • Epitel Squamous : 10-15/LPK
  • Epitel Bulat : Tidak ada
  • Epitel Transisional : 1-5/LPK
  • Bakteri/parasit : Tidak ditemukan
Ca. Oxalat


Ca. Oxalat dan Triple Fosfat


Triple Fosfat dan Ca. Oxalat


Sel Epitel Squamous


Sel Epitel Squamous


Ca. Oxalat dan Sel Epitel Squamous


Bakteri di Urine


Sumber :
foto diambil dengan menggunakan kamera hp wktu praktek Kimia Klinik kamis kemaren :)

Seri - Seri Leukosit

Praktikum Hematologi

Seri - Seri Leukosit

Tujuan :
  • Menilai unsur sel pada darah tepi :  Eritrosit, Leukosit, Trombosit
  • Mencari adanya parasit  :  Malaria, Mikrofilaria
Syarat Mutlak  : Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik, sediaan hapus harus dibuat dan dipulas dengan baik


Prinsip kerja :
Setetes darah dipaparkan diatas kaca objek lalu dicat dan diperiksa dibaqwah mikroskop


Alat :
kaca objek glass bebas lemak dan debu , kering dan bersih
rak pewarnaan
pipet pastuare
mikroskop


Bahan pemeriksaan :
darah vena yang telah di beri antikoagulan (EDTA/ Ethylendiamine Tetraacetic Acid)


Reagen :
oil emersi
metanol
buffer
1 ml + 5 tetes giemsa induk


Cara kerja :
  • objek glass harus kering, bebas air, bebas lemak, dan debu
  • teteskan sedikit darah pada objek glass
  • sentuh  setetes darah dengan jarak kurang lebih 2cm dari ujung objek glass dan letakkan di atas meja dengan setetes darah di sebelah kanan
  • gerakkan tangan kanan pada objek glass lainnya di sebelah kiri tetes darah
  • gerakkan darah sampai memcapai kurang lebih 1/2cm dari kaca
  • dorong kaca penggeser ke kiri stabil memegang miring dengan sudut 30 - 40 derajat
  • biarkan sediaan kering dan tulis nama penderita dan tanggal pembuatan
  • lalu sediaan siap di warnai
Cara perwarnaan dengan Giemsa :
  • letakkan sediaan yang akan di pulas di atas rak dengan lapisan darah ke atas
  • teteskan beberapa tetes metanol ke atas sediaan hapusan sehingga bagian yang terlapis darah tertutup semuanya , biarkan selama 5 menit
  • tuanglah kelebihan metanol tadi
  • lalu teteskan larutan giemsa yang telah di encerkan (1 ml + 5 tetes giemsa induk) biarkan selama 15 -20 menit
  • setelah itu bilas dengan air dan biarkan vertikal sampai kering
      
        Seri - Seri Leukosit

Bentuk / Ukuran :
- semakin tua sel semakin kecil sel
- semakin muda sel semakin besar sel

Anak Inti

- semakin tua sel tidak memiliki anak inti

- semakin muda sel memiliki anak inti

Kromatin :
- semakin muda sel kromatin semakin halus
- semakin tua sel kromatin semakin kasar

Granula :
- semakin tua sel semakin banyak granula
- semakin muda sel semakin sedikit granula

Inti sel :
- semakin tua sel semakin berubah / melekuk

Warna :
- sel muda akan berwarna biru
- sel tua dan semakin tua akan berwarna merah


Metamieolosit

Metamieolosit Eosin

  Metamieolosit

 Basofil Pada Leukimia

Premieolosit

Rubrisit dan Metarubrisit

Promonosit dan Netrofil Segmen

Netrofil Stab / Batang

Mieolosit Eosin

 Netrofil Stab / Batang



Sumber :
foto diambil dengan menggunakan kamera hp wktu praktek hematologi rabu kemaren :)

Senin, 24 Oktober 2011

Pengenalan Morfologi Sel Erytrosit

Praktek Hematologi


Pengenalan Morfologi Sel Erytrosit


Tujuan :
  • Menilai unsur sel pada darah tepi :  Eritrosit, Leukosit, Trombosit
  • Mencari adanya parasit  :  Malaria, Mikrofilaria
Syarat Mutlak  : Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik, sediaan hapus harus dibuat dan dipulas dengan baik


Prinsip kerja :
Setetes darah dipaparkan diatas kaca objek lalu dicat dan diperiksa dibaqwah mikroskop


Alat :
kaca objek glass bebas lemak dan debu , kering dan bersih
rak pewarnaan
pipet pastuare
mikroskop


Bahan pemeriksaan :
darah vena yang telah di beri antikoagulan (EDTA/ Ethylendiamine Tetraacetic Acid)


Reagen :
oil emersi
metanol
buffer
1 ml + 5 tetes giemsa induk


Cara kerja :
  • objek glass harus kering, bebas air, bebas lemak, dan debu
  • teteskan sedikit darah pada objek glass
  • sentuh  setetes darah dengan jarak kurang lebih 2cm dari ujung objek glass dan letakkan di atas meja dengan setetes darah di sebelah kanan
  • gerakkan tangan kanan pada objek glass lainnya di sebelah kiri tetes darah
  • gerakkan darah sampai memcapai kurang lebih 1/2cm dari kaca
  • dorong kaca penggeser ke kiri stabil memegang miring dengan sudut 30 - 40 derajat
  • biarkan sediaan kering dan tulis nama penderita dan tanggal pembuatan
  • lalu sediaan siap di warnai
Cara perwarnaan dengan Giemsa :
  • letakkan sediaan yang akan di pulas di atas rak dengan lapisan darah ke atas
  • teteskan beberapa tetes metanol ke atas sediaan hapusan sehingga bagian yang terlapis darah tertutup semuanya , biarkan selama 5 menit
  • tuanglah kelebihan metanol tadi
  • lalu teteskan larutan giemsa yang telah di encerkan (1 ml + 5 tetes giemsa induk) biarkan selama 15 -20 menit
  • setelah itu bilas dengan air dan biarkan vertikal sampai kerin


                                          Tear Drop Cell


                                          Leptosit


                                          Ringed Cell


                                          Sel Target


                                          Crena ted sel dan Sel Target


                                          Schytosit dan Leptosit




Sumber :
foto diambil dengan menggunakan kamera hp wktu praktek hematologi rabu kemaren :)

Kamis, 20 Oktober 2011

Pemeriksaan Transudat Ekasudat

Praktek Kimia Klinik


Pemeriksaan Transudat Ekasudat

Rongga-rongga serosa dalam badan normal mengandung sejumlah kecil cairan. Cairan itu terdapat umpama dalam rongga perikardium, rongga pleura, rongga perut dan berfungsi sebagai pelumas agar membran-membran yang dilapisi mesotel dapat bergerak tanpa geseran. Jumlah cairan itu dalam keadaan normal hampir tidak dapat diukur karena sangat sedikit. Jumlah itu mungkin bertambah pada beberapa keadaan dan akan berupa transudat atau eksudat.

Fungsi dari transudat dan eksudat adalah sebagai respon tubuh terhadap adanya gangguan sirkulasi dengan kongesti pasif dan oedema (transudat), serta adanya inflamasi akibat infeksi bakteri (eksudat).

Parameter pemeriksaan yang umum diperiksa pada transudat eksudat adalah sebagai berikut :

Makroskopik
- Warna
- Kejernihan
- Bekuan
- BJ
- pH

Mikroskopik
- Hitung Jumlah Sel
- Hitung Jenis Sel (Diff.Count)

Kimiawi
- Rivalta
- Protein
- Glukosa
Makroskopik

Metode  : Visual (Manual)
Tujuan : Untuk mengetahui cairan transudat eksudat secara makroskopik meliputi : warna, kejernihan, bekuan, pH dan BJ.

Alat dan Bahan :
- Tabung reaksi
- Beaker gelas
- Kertas indikator pH universal
- Refraktometer abbe

Spesimen : Cairan Rongga Perut / Ascites

Cara Kerja :
  • Cairan Ascites dimasukkan dalam tabung bersih dan kering.
  • Diamati warna, kejernihan, adanya bekuan pada cahaya terang.
  • Dicelupkan indikator pH universal pada Transudat Eksudat dan diukur pH dengan membandingkan deret standar pH.
  • Cairan Transudat Eksudat diteteskan 1-2 tetes pada refraktometer dan diperiksa pada eye piece BJ.
Nilai Normal :
  • Warna => Tidak berwarna, Kuning muda, Kuning, Kuning tua, Kuning coklat, merah, hitam coklat, serupa susu, merah jambu, biru kehijauan, kuning campur hijau.
  • Kejernihan => Jernih, agak keruh, keruh, sangat keruh, keruh kemerahan, keruh putih serupa susu.
  • Bekuan => Tidak ada bekuan / ada bekuan
  • pH => 7,3 atau setara dengan pH plasma/serum
  • BJ => 1.000 – 1.010
Mikroskopik
Metode : Bilik Hitung
Tujuan : Untuk mengetahui jumlah sel dalam cairan Ascites.


Prinsip : Transudat Eksudat diencerkan dengan larutan Turk akan ada sel leukosit dan dihitung selnya dalam kamar hitung di bawah mikroskop.


Alat dan Reagensia :
- Mikroskop
- Hemaocytometer : Bilik hitung Improved neubauer, kaca penutup, pipet thoma leukosit
- Tissue
- Larutan Turk atau NaCl 0,9%


Spesimen : Cairan Rongga Perut / Ascites


Cara Kerja :

  • Larutan Turk/NaCl 0,9% diisap sampai tanda 1 tepat
  • Larutan Transudat Eksudat diisap sampai tanda 11 tepat.
  • Dikocok perlahan dan dibuang cairan beberapa tetes.
  • Diteteskan pada bilik hitung dan dihitung sel dalam kamar hitung pada semua kotak leukosit di mikroskop lensa objektif 10x/40x.
Nilai Normal : 
Jumlah sel Transudat 500 sel/mm3 sedangkan Eksudat > 500 sel/mm3.


Catatan :
  • Pengencer NaCl 0,9% digunakan apabila pada pemeriksaan makroskopik ditemukan adanya cairan ke arah eksudat dan terdapat bekuan yang banyak. Namun sebaiknya digunakan larutan NaCl 0,9% bila ragu membedakanya.
  • Larutan Turk mengandung asam asetat yang dapat menyebabkan protein menjadi denaturasi sehingga terjadi bekuan.
Hitung Jenis Sel
Metode : Giemsa Stain
Tujuan : Untuk menghitung jenis sel mononuklear dan polinuklear dalam cairan diduga Transudat atau Eksudat.


Alat dan Reagensia :
- Objek Gelas
- Kaca Penghapus
- Sentrifuge
- Tabung reaksi
- Metanol absolut
- Giemsa
- Timer


Spesimen : Cairan Rongga Perut / Ascites


Cara Kerja :
  • Apabila cairan jernih maka cairan dilakukan sentrifugasi 5 menit 3000 rpm dibuat hapusan tebal, namun bila cairan sudah keruh dan berkeping-keping maka dapat langsung dibuat sediaan hapus tipis/tebal.
  • Diteteskan pada objek gelas dan dibuat preparat hapusan tebal
  • Di keringkan dan difiksasi selama 2 menit dengan metanol absolut.
  • Diwarnai dengan Giemsa selama 15-20 menit.
  • Dicuci dan diperiksa dimikroskop lensa objektif 100x dengan oil emersi.
Kimiawi

Uji Rivalta (Protein Kualitatif)
Metode : Rivalta
Tujuan : Untuk mengetahui adanya protein dalam cairan untuk membedakan antara transudat dan eksudat.

Prinsip : seromusin dalam suasana asam akan mengalami denaturasi hingga terjadi kekeruhan.

Alat dan Reagensia :
- Beaker gelas
- Pipet tetes
- Asam asetat glasial (100%)

Spesimen : Cairan Rongga Perut /Asites

Cara Kerja :
  • Dimasukkan 100 mL aqudest ke dalam beaker gelas dan ditambah 1 tetes asam asetat glasial. Atau dimodifikasi dengan asam asetat 1-2% dimasukkan dalam tabung reaksi sebanyak 3 mL.
  • Ditambah 1 tetes cairan transudat eksudat.
  • Amati adanya kekeruhan pada larutan tersebut.
Nilai Normal :
  • Negatif : tidak terbentuk kekeruhan putih
  • Positif  : terbentuk kekeruhan putih.
Uji Protein
Metode : Biuret
Tujuan : Untuk menetapkan kadar protein dalam Transudat Eksudat.

Prinsip : Protein dalam sampel bereaksi dengan ion cupri (II) dalam medium alkali membentuk komplek warna yang dapat diukur dengan spektrofotometer

Alat :
- Tabung reaksi
- Mikropipet 20 μLdan 1000 μL.
- Tip kuning dan biru.
- Fotometer

Reagensia :
- Reagen Kerja: Cupri (II) asetat 6 mmol/L, Kalium Iodida 12 mmol/L, NaOH 1,15 mol/L, deterjen.
- Reagen standard : 8,0 g/dL
- Stabilitas : Reagensia stabil setelah dibuka sampai kadaluarsa bila disimpan pada suhu ruang.

Spesimen : Cairan Rongga Perut / Ascites

Cara Kerja metode carik celup :
  • masukkan kertas carik celup ke dalam tabung yang telah berisi cairan ascites
  • lalu angkat dan diamkan sebentar
  • kemudian baca hasil dengan meliat pada standar


Perhitungan :
Total Protein = Absorben sampel
Absorben standard x konsentrasi standar (8,0 g/dL)
= ..............g/dL

Nilai Normal : 
  • Protein Transudat < 2,5 g/dL
  • Protein Eksudat > 2,5 g/dL
Uji Glukosa
Metode : Carik Celup
Tujuan : Untuk menentukan kadar glukosa dalam cairan ascites

Prinsip : Glukosa dioksidasi oleh glukosa oksidase menghasilkan hidrogen peroksida yang bereaksi dengn 4-aminoantipirin dan fenol dengan pengaruh katalis peroksidase menghasilkan quinoneimine yang berwarna merah.

Reaksi : 
  • Glukosa + ½ O2 + 2 H2O glukosa oxidase Glukonate + H2O2.
  • 2 H2O2 + 4-Aminoantipyrine + Phenol POD Quinoneimine + 4 H2O
Alat :
- Tabung reaksi kecil - Timer
- Mikropipet 10 dan 1000 μl - Tissue
- Tip kuning dan biru - Rak Tabung
- Fotometer

Spesimen : Transudat Eksudat

Cara kerja:
  • masukkan kertas carik celup ke dalam tabung yang telah berisi cairan ascites
  • lalu angkat dan diamkan sebentar
  • kemudian baca hasil dengan meliat pada standar



Untuk Uji Glukosa dan Protein


Uji Rivalta

                                          Sel MN



Sumber :
Foto di ambil dengan kamera hp wktu praktek kimia klinik kamis kemaren :)

Kamis, 13 Oktober 2011

Petanda infeksi Hepatitis C


Petanda infeksi Hepatitis C 
 Anti HCV :
-          Muncul 3-6 bulan setelah infeksi akut Hepatitis C.
-          Tidak dapat mendiagnosis infeksi HCV akut.
-          Masih diragukan apakah antibodi ini dapat menunjukkan adanya suatu infeksi kronik.
-          Dideteksi dengan cara Immunochromatography strips (oncoprobe test).

Petanda infeksi Hepatitis B


Petanda infeksi Hepatitis B
1.      HBs Ag (Hepatitis B surface Antigen)
-       Merupakan antigen permukaan dari virus hepatitis B yang dapat dideteksi didalam serum
-        Petanda serologi yang pertama muncul dalam darah, sekitar 1-2 minggu setelah infeksi.
-        Menunjukkan adanya DNA virus di dalam hepar.
-  Timbul beberapa hari sebelum timbulnya gejala klinik dan pada sebagian besar kasus menghilang setelah 4-8 minggu.
-      Bila lebih dari 6 bulan HBs Ag masih positif merupakan tanda bahwa infeksi menjadi kronik atau penderita akan menjadi pembawa virus (carrier).
-         Terdapat pada infeksi kronik dan akut.
-      Uji secara serologi dengan menggunakan metode : Direct Agglutinasi latex, RPHA cell (entebe), ELISA, Immunochromatography strips (oncoprobe test).

2.      Anti HBs
-          Merupakan antibodi terhadap HBs Ag
-   Timbulnya sesaat setelah hilangnya HBs Ag. Adanya anti HBs bersama hilangnya HBs Ag, menunjukkan bahwa tidak ada lagi virus didalam hepar.
-        Menunjukkan kesembuhan klinis infeksi HBV
-        Antibodi ini jumlahnya beragam yang diketahui dari angka titer yang sesuai dengan kekebalan yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan.
-         Kekebalan dapat juga timbul dengan vaksinasi hepatitis B.

3.      Anti HBc
-       Antibodi terhadap HBc Ag.
-       Timbulnya pada waktu munculnya gejala-gejala klinik.
-      IgG anti HBc merupakan petanda yang baik adanya kontak dengan virus hepatitis B, terdapat pada infeksi kronik maupun akut dan segera setelah infeksi berlalu.

4.      IgM anti HBc
-       Timbul pada permulaan penyakit dan biasanya hilang dalam beberapa minggu
-        Juga terdapat pada hepatitis kronik.
-    Konsentrasi IgM anti HBc berhubungan dengan aktifitas proses infeksi di dalam hepar dan menunjukkan adanya virus didalam darah.
-      Bila titer rendah menandakan Hepatitis B kronik dan bila titer tinggi menandakan Hepatitis B akut.

5.      HBe Ag  (Hepatitis B envelope Antigen)
-   Pada infeksi akut dapat dideteksi selama periode tertentu dan hilang bersamaan dengan timbulnya anti HBe.
-          Bila menetap berarti infeksi berkelanjutan, persisten dan terjadi replikasi virus.
-          Juga dapat dideteksi pada infeksi yang kronis, terutama pada hepatitis kronik aktif.
-    Menunjukkan adanya virus yang infeksius di dalam sirkulasi darah (infeksi HBV dalam keadaan aktif dan replikatif).
-        Merupakan petanda yang baik untuk mengevaluasi infektifitas dari carrier  HBs Ag kronik.
-    Bila Hbe Ag menjadi negatif berarti infeksi sudah mereda, apalagi setelah anti Hbe menjadi positif.

6.      Anti HBe
-        Antibodi terhadap Hbe Ag
-        Bertahan selama beberapa tahun
-    Timbulnya antibodi ini menunjukkan aktifitas infeksi HBV berada dalam fase non replikatif dan infeksius minimal, yang berarti aktifitas infeksi HBV sudah menurun.